Sepakbola Kita : Tekhnik Pencak Silat, Sarang Mafia, dan Federasi Jenius !
Oleh : Aan Robi Azis
| (Gambar : bola.com) |
Rentetan hasil minor timnas
sepakbola Indonesia dalam 2 tahun terakhir mengindikasikan ada beberapa faktor
yang mempengaruhinya. Terutama tekhnis didalam lapangan saat pertadingan. Hasil
kualifikasi piala dunia 2022 dari 8 partai pertandingan Indonesia hanya memetik
satu kali hasil imbang. Sisanya menerima hasil kekalahan bahkan dengan torehan
gol yang cukup mencolok alias dibantai habis ! benar brader, dibantai !
Terakhir partai pertandingan
Timas Indonesia kelompok umur dibawah 23 tahun, harus menerima hasil kekalahan
2 kali melawan Australia yang menyebabkan Indonesia harus legowo tidak bisa
ikut serta dalam Asian Cup U23 tahun mendatang. Sekilas ikut menilai, tekhnik
dan level permainan antara Indonesia dengan Australia cukup mencolok alias
jomplang. Australia benar benar menerapkan pola permainan sepakbola modern yang
sampai saat ini belum bisa diterapkan tim nasional kita.
Bahkan dalam beberapa match kualifikasi piala dunia 2022 pun
begitu. Level permainan kita tertinggal, bahkan dengan Negara tetangga Vietnam,
Thailand, Malaysia yang satu grub dengan kita. Ditambah dengan Uni Emirat Arab,
jauh brader jauh !!!. Kita belum mampu menerapkan sepakbola dengan pola yang
relevan dengan jaman perbolaan hari ini. Level kita masih jauh tertinggal, apa
penyebabnya ? liga kita belum professional ! apalagi pemainnya !. tekhnik dasar
permainan sepakbola kita masih kuno
Ini diakibatkan habbits atau kebiasaan bermain sepakbola yang kurang
baik diliga Indonesia yang terbaik se-Asia. Katanya ! Kata siapa ? Federasi-lah
!. Liga kita hari ini masih banyak hal-hal ndagel
yang dianggap lumrah, menurut netizen begitu. Keputusan wasit yang
kontroversial, sampai tekhnik pencak silat yang diterapkan disepakbola dalam
pertandingan dalam negeri oleh pemain klub klub negeri wonderful. Wonderful apa
wonderland sih ? WKWK-land ajalah
Kebiasaan bermain dengan sekarepnya sendiri menjadi kebiasaan
sampai menjadi karakter bahkan saat bermain untuk tim nasional. Contoh
permainan sepakbola tanpa tekhnik menjurus kasar. Sempat rame beberapa waktu
lalu dunia perbolaan kita. Pertandingan persahabatan antara klub liga 1 melawan
klub liga 2. Dimana klub liga 2 ini pemiliknya adalah artis terkemuka di tanah
air. Dalam pertandingan tersebut dua mantan pemain timnas mempertontokan
sepakbola kungfu. Mantan pemain timnas ini loh, yang seharusnya memberikan
contoh kepada pemain lainnya
Bayangkan perebutan bola yang
seharusnya menggunakan tekhnik dan taktik justru harus memakai jurus beladiri.
Hasilnya lumayan, mencederai pemain lawan !. Tendangan kungfu mantan pemain
timnas tepat sasaran mengenai dada pemain lawannya. Menurut saya ini bukan
sekedar tendangan, tapi tendangan kobra
dalam tekhnik pencak silat. Dimana dalam pencak silat ada namanya tendangan kobra dengan sasaran dada. Dalam
pertandingan silat apabila tendangan ini masuk mendapatkan nilai dua oleh juri
Saya mengatakan begitu karena
saya lebih paham pencak silat dibanding kungfu, sombong dikit lah. Wattttcaaaa
!!! sempat berpikiran kenapa pemain macam ini tidak alih profesi menjadi atlet
silat, bisa toh menggantikan Hanifan atau Komang Harik kedepan dalam kancah
persilatan yang sudah menyumbangkan medali emas Asian Games 2018. Mereka
nendang di gelanggang dapat medali emas, mengharumkan nama Bangsa. Lah ini,
nendang lawan dilaga sepakbola pakai tekhnik silat. Dapat juga sih, cemoohan
dan hujatan netizen yang ada !
Liga Indonesia Sarang Mafia
Sempat ramai dunia maya dan media
massa, saat acara talkshow salah satu
stasiun televisi nasional membahas sepakbola dalam negeri. Tuan rumah acara ini
Najwa Shihab, acara yang bertajuk “PSSI Bisa Apa Jilid 6 : Lagi-Lagi Begini”. Tayangan
ini menguak dugaan skandal pengaturan skor dalam liga 2 Indonesia. Sejumlah pemain
diisukan ‘bermain mata’ dengan klub lain supaya mengalah dalam pertandingan. Bukan
hanya pemain, perangkat pertandingan pun terlibat secara langsung dalam skandal
match fixing diliga 2 Indonesia
Talk Show ini juga menghadirkan narasumber yang mana seorang
tersebut salah seorang wasit nasional yang memimpin pertandingan dan terlibat
dalam skandal pengaturan skor. Wasit yang disebut Mr.Y ini tak mau identitasnya
dipublish karena alasan keamanan. Penuturan Mr.Y dalam wawancara bersama Najwa
Shihab dia menuturkan bagaimana tekhnis pengaturan skor. Mulai dari meeting,
telfon bersama pemain untuk dijadikan tokoh perjudian didalam lapangan. Sampai kode
kodean yang sudah diatur sedemikian rupa didalam lapangan. Bukan main, tersistematis
bukan
Pengaturan skor di Indonesia
bukan hal baru sebenarnya, semenjak awal medio 2000-an praktik ini sudah kerap
kali dilaksanakan. Mengingat animo dan antusias sepakbola Indonesia yang begitu
menggurita. Hingga hari ini penyakit kronik ini belum bisa disembuhkan dalam
tubuh sepakbola nasional. Anehnya PSSI terkesan seperti membiarkan praktik ini.
Sebentar, yang sebenarnya apakah federasi tau tapi pura pura tidak tau. Atau federasi
dengan orang orangnya ikut terlibat dalam kasus ini.
Bikin geli juga, dalam acara Mata Najwa bisa
menghadirkan salah seorang yang terlibat dalam match fixing. Justru kenapa PSSI tidak bisa ? bukannya mereka punya
satuan tugas anti mafia bola, itu yang mejeng
dipinggir lapangan saat kita nonton liga 1 dilayar kaca. Lalu sejauh ini
bagaimana progres tugas satgas anti mafia bola ? Mbok ya kasian Mbak Najwa
kalau harus buat acara ‘PSSI Bisa Apa’ sampai berjilid seratus tujuh puluh
tiga. Kalau hanya untuk menguak problematika ini, Kasian !
PSSI : Federesai Jenius Tak Perlu Profesional !
Baik kita awali darimana dulu
bicara PSSI ? Organisasinya ? Profesionalnya ? Liganya ?. Jangan deh jangan,
tak kuasa hati ini. Bismillah. PSSI adalah federasi sepakbola paling jenius
dijagat sepakbola dunia. PSSI tak mau diintervensi oleh siapapun bahkan FIFA
sekalipun harus cium tangan kepada PSSI. Regulasi PSSI yang terkesan cukup aneh
tapi terkesan jenius. Tahun 2017 contohnya, ada regulasi liga 1 saat itu yang
mengintruksi klub 1, klub hanya boleh mengontrak maksimal dua pemain yang berusia di atas
35 tahun. Alasan PSSI adalah supaya klub memaksimalkan pemain muda.
Selain itu, ditahun yang
sama dalam Liga 1 juga akan diterapkan peraturan aneh yang tidak sesuai dengan
Laws of the Game FIFA, yakni pergantian pemain yang dibuat sampai lima kali.
Sementara, dalam peraturan FIFA maksimal tiga kali. Dan semenjak tahun
lalu Laws of the game FIFA, mengatur pergantian sampai lima kali. Sepertinya terinspirasi
dari regulasi PSSI sebelumnya. Inilah bukti bahwa pemikiran dan hasil kerja
dari PSSI Out Of The Box. Jenius bukan
? bukan main !
Terbaru sebelum liga 1
bergulir, regulasi BRI Liga 1 2021/2022 semua klub harus ditangani pelatih bersertifikat AFC Pro.
Namun ada salah satu klub asal Banda Aceh yaitu Persiraja sang pelatih terancam
tak bisa ikut serta menjadi bagian tim atau pelatih karena lisensi
kepelatihannya masih AFC A. Artinya sang pelatih harus mengupgrade lisensi
kepelatihannya supaya bisa terdaftar sebagai pelatih yang sesuai dengan
regulasi liga. Namun bukan PSSI kalau tidak aneh, PSSI dan PT Liga Indonesia
Baru (PT LIB) merestui Hendri Susilo tetap menjadi pelatih Persiraja Banda
Aceh, maka dia akan menjadi satu-satunya pelatih berlisensi A AFC yang
berkiprah di BRI Liga 1 2021/2022
Sementara klub yang ikut serta dalam liga harus memiliki indikator
supaya lolos regulasi kelayakan klub liga. Semisal Infrastruktur, manajemen
klub, keuangan klub, dan pembinaan usia muda untuk menuju liga yang profesional.
Namun justru masih banyak klub yang nunggak gaji pemainnya selama ini,
infrastruktur yang tidak standart AFC, bahkan masih ada klub yang tidak punya
tempat latihan sendiri. Atau stadion rasa kolam ikan lele, stadion klub liga
satu iniloh ! dan juga masih ada klub yang menyepelehkan pembinaan usia muda. Tetapi masih saja diloloskan untuk mengikuti liga sekalipun tidak sesuai dengan regulasi dan standarisasi yang diterapkan PSSI dan PT LIB itu sendiri selaku penyelenggara liga. Liga Primer Inggris, Laliga Spanyol minggir dulu, Liga 1 Indonesia ini bos. Kalian mana bisa seperti kita !
Jika regulasi dan standarisasi dibuat untuk menuju
pengelolaan liga yang profesional harusnya ditaati oleh semua yang terlibat.
Bukan justru dianulir dan ditolerir oleh PSSI itu sendiri. Cuman federasi yang
jenius bisa begini, yang lain mana bisa. Mengcapek, jangan disenggol !!!
Garuda Didadaku !!!
Garuda Kebanggaanku !!!
PSSI Dagelanku !!!
benar begitu?
ReplyDeleteHallo ! Apakah anda penggemar sepakbola ? Saya tidak begitu yakin !!!
Delete