Education on Vacation
oleh : Aan Robi Azis
Tulisan ini membaca pengajaran hari ini melalui kacamata
dan sudut pandang fundamentalis dan instrumentalis
Sistem pengajaran pembelajaran dalam kelas hari ini yang monoton memaksakan
searah berakibat pada sikap pragmatis dan menimbulkan gejala sifat dogmatis terhadap kaum terpelajarnya
baik dalam hal berfikir ataupun bertindak. Sudah seharusnya kegiatan belajar
dan mengajar dalam kelas berjalan sesuai dengan semestinya, menjadikan kelas
sebagai ruang dialektika untuk mencari sebuah kebenaran universal tidak hanya kebenaran karena egosentris parsial. Ruang kelas juga seharusnya
menjadi ruang demokrasi sebebas bebasnya, menjadikan tempat edukasi sejak dini
terhadap warga negara untuk menggunakan hak demokrasinya tanpa adanya perasaan
intimidasi dan tendensi. Kritisme dalam kelas dianggap sebagai ancaman,
seharusnya jika mampu berpikir objektif hal tersebut merupakan sebuah hidayah. Karena
akan lahir pencetus atau ilmuwan baru dibidangnya. Namun kenyataannya seorang kritisme dibunuh, oleh teman sebaya dan juga terkadang oleh
pengajarnya. Membunuh karakter bukan membunuh dengan argument berkualitas
melalui retorika yang penuh literasi
Adapun lembaga pendidikan dimasa
sekarang yang tak lebih hanyalah sebagai perusahaan yang bersifat kapitalis
dengan menjadikan pelajar yang terdaftar didalamnya sebagai komoditas untuk
mengeruk keuntungan semata. Bukan tanpa alasan, pertama rasa takut dihantui
akan tidak lulus dan tidak mendapat pekerjaan sudah ditanamkan sejak menjadi
maba. Bukannya keberadaan sebuah pendidikan tidak hanya menyoal sebuah profesi
meskipun tujuan akhir kegunaan surat keterangan lulus dari intansi adalah untuk
sesuatu yang bersifat materi. “tujuan pendidikan itu untuk mempertajam
kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan” Tan Malaka. Artinya
tujuan akhir pendidikan tidak hanya sesuatu hal yang bersifat materi saja,
namun sisi immateri dibaliknya bagaimana menjadi insan manusia yang mampu
menempatkan dirinya dengan baik ditengah tengah manusia yang lain
Kedua,
hampir tidak ditemukannya output dari hasil study bahkan jurusan yang diambil. Lantas
apa pengaruhnya ? Skill akademika bersifat teoritis ternyata tak mampu menolong
dirinya dari jurang kesengsaraan pasca menempuh pendidikan tinggi. Penemuan di
zaman modern ini dalam sebutan labour of
avection atau sekelompok kaum terpelajar yang dieksploitasi dirinya untuk
dijadikan sebagai pekerja. Bukan sebagai pioner atau pelopor dalam
pembaharuan, era kapitalis kaum terpelajar menjadi subjek. Ada rasa curiga
terhadap pelaksana pendidikan negeri ini. Sebagai salah satu unsur berbentuk lembaga
unutk mewujudkan cita cita bangsa dan negara “mencerdaskan kehidupan bangsa”,
alih alih justru bermanuver menjadikan tempat yang sering kali disebut
laboratorium dunia sebagai tempat pengkerdilan dan menanam spirit kebodohan
calon intelektual muda. Pun begitu, pemerintah mensyiarkan sebuah pembodohan
secara gamblang yang secara otomatis mencerminkan dirinya sangat bodoh. Semisal,
analogi yang mengerikan mengenai frasa radikalisme,
sosialisme, marxisme, liberalisme atau
komunisme. Doktrinisasi seperti ini
yang menjadikan diri bangsa makin terlihat dungu, sepertinya subsidi kepada
pemerintah untuk akal rasio sangat perlu. Tolong membaca buku terlebih dahulu
sebelum menggerutu !
Apakah ini
menjadi bagian dari sebuah agenda besar ? Agenda pembodohan secara serentak
bagi anak bangsa melalui pendidikan untuk melancarkan siasatnya memberdayai
kemudian mengeksploitasi ? Negeri ini memang layaknya perawan yang menawam,
banyak mengundang ghairah untuk menguasainya. Sadar bahwa untuk menguasai
negeri ini tidak bisa dengan angkat senjata. Karena dalam histori, spirit
nasionalisme bangsa Indonesia mampu meluluhlantahkan kolonialisme dan imperialisme justru hanya dengan sebilah
bambu runcing. Ada alternatif yang ampuh dan mulai digencarkan hari ini. Pembunuhan
terhadap buah pemikiran yang dianggap sebuah ancaman bagi misinya. Ilmu dan
pengetahuan menjadikan seseorang lebih objektif dan rasional dalam memandang
sesuatu. Inilah ancaman sesungguhnya bagi para neo-kapitalisme, neo-imperialisme berwajah baru dalam framing mewujudkan cita cita bangsa
Indonesia. Melalui transaksional secara sistematis dan massive oleh pendidikan itu sendiri

This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
DeleteTurun jalan, mari beri pengajaran kepada penguasa.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
Delete