Sastra & Cinta Seorang Aktivis (2)


          
Oleh : Aan Robi Azis

                     Dari perjalanan menuju perjalanan lain, dari satu kota menuju kota selanjutnya. Kabut asap pekat seiring lelehnya bekas pembakaran ban, gas air mata, terhalang pagar betis sekaligus suport kawat berduri dan water canon. Sejak abad sebelum Socrates hingga post modern. Karl Marx, Machiavelli sampai pemikir Islam kontemporer. Penyeduh kopi hitam sembari ditemani rokok batang yang dibeli secara angsur (eceran). Tanpa memberikan sebuah tau siapa sosoknya
            Kemewahan terhadap akal budi, idealisme dan intelektual. Penentang kesewenangan, pioner dan pelopor kebebasan. Adapun yang terbesit dalam beberapa hal tersebut tentunya masih seorang manusia biasa. Terkadang berdiri menentang, tumbang dan berduka. Maklumat terhadap seorang manusia. Egosentris yang dimiliki aktivis tak terbendung terhadap sebuah nilai kebeneran yang dianggapnya. Lantas seperti apa dan bagaimana dengan bentuk cinta dalam pandangannya. Seperti apa wujud idealis dan egosentris aktivis saat terbentur tembok cinta ?
            Bentuk cinta pada umumnya selayaknya pisau bermata dua. Memiliki sebuah arti untuk hal kebaikan justru sebaliknya. Perihal jatuh cinta dan cinta yang dialami aktivis tak banyak justru hampir diibaratkan bom atom yang memporak porandakan dirinya sendiri. Tak khayal, banyak sesuatu hal menarik yang ditawarkan cinta, terutama cinta kepada lawan jenis. Konsen tulisan ini, akan menguak seperti apa dan bagaimana aktivis dalam menjalani rajut asmara. Tidak akan ada kisah romansa yang manis seperti dipertotonkan dalam kisah ftv ataupun cinema bioskop
            Membaca buku, menulis, riset atau kaderisasi yang digeluti aktivis tak jarang menjadikan dirinya menjadi seorang super sibuk yang sebenernya tak memiliki kompensasi yang bernilai profit. Terlalu pening rasanya, otak dan pikiran dipaksa diputar membolak balik, serasa pecah tempurungnya. Belum lagi dalam membagi waktu kepada sang dambaan. Tingkat kesetiaan aktivis tak perlu diragukan, bukan narasi pembenaran terhadap aktivis. Terkadang juga banyak aktivis yang ditinggal oleh sang kekasih. Ya memang, atas dasar apa yang dikerjakan aktivis tak masuk akal dimata seorang perempuan. Selain hal yang tak mudah dimengerti sampai tak menghasilkan sesuatu secara finansial
            Belum lagi dalam hal skala prioritas. Bagaimana membagi prioritas hal yang digelutinya dengan asmaranya. Menelan kepahitan atas rasa rindu yang berada dipuncak tanpa kepastian kapan akan bersua. Bersikap profesional dikala berada dalam lingkaran aktivitas formal, atau menepikan kekasih demi organisasi. Rindunya hanya terbesit dalam goresan pena, yang belum tentu juga dapat mengobatinya. Atau jangan jangan hanya sebatas dibaca tanpa sikap pengertian darinya. Hal yang lucu, bagi aktivis yang memang getol dalam menggeluti dunianya. Pasti akan merasa canggung terhadap asmara. Ntah, terasa menjadi insan bodoh dan tolol secara sepihak. Iya, mendadak bodoh dan tolol ! Apakah seperti ini output dari literasi ? Serasa percuma mengkonsumsi karya monumental das capital milik Karl Marx,  il principe punya Nicholo Machiavelli, atau tahafut al falasifah dari Al-Ghazali. Jika diri hanya takluk seketika lemah karena cinta
            Berbusa busa dalam pembahasan ideologi, peradaban, budaya, sosial dan politik. Jika hanya sekejap gagu karena cinta, ini yang mungkin disebut dengan kebodohan menuju ketololan organik yang tersirat secara tidak langsung. Perubahan passion, lucu memang karena hal asmara jadi sebabnya. Selanjutnya, aktivis yang tidak dapat memberikan perlakuan layaknya orang kasmaran diluar sana. Menjadi pembeda, kembali ruang sastra jadi pelampiasan. Tapi tak cukup hanya sekedar ruang sastra. Sastra aktivis mungkin menarik, frame yang dibingkai seputar perjuangannya, kisahnya ataupun cintanya. Manis memang, tapi hanya berputar dalam dunia angan angan
            Tak mampu melakukan apapun, karena terbatas tembok. Untuk tidak mengkhianati prinsip. Sadar yang dilakukannya menyakitkan bagi dambaannya, tidak terlalu tega dalam hatinya melihat perlakuannya. Ingin melihat dambaannya bebas mendapatkan apa yang seharusnya menjadi hak selayaknya seorang kekasih. Namun melepaskan juga yang jelas akan menyakitkan dirinya sendiri. Paradigma hati yang sedang menyerang. Gejolak hati yang tidak bisa dibendung. Disisi lain tidak dapat melakukan apapun. Apalagi dengan coklat dan mawar sambil mendengarkan lagu di cafetaria, pasti dalam benaknya “ini pengkhiatan, terjebak dalam kemunafikan. Naif menjadi seorang berpura pura layaknya borjouis”
            Kalau sudah begini seharusnya sudah menjadi kesadaran akan konsekuensi yang akan diterima dari kisah asmara. Kekasihnya mampu mendapatkan tempat ternyaman selain dirinya karena keterbatasan memperlakukannya. Atau ada alternatif lain bagi kekasihnya untuk membuka hati bagi seseorang lain demi hasrat kebahagiannya yang selama ini sangat sulit untuk didapatkannya. Tak salah ! Ini adalah hak. Teringat lagu Donna-donna milik Joan Baez. Mengapa kau menjadi sapi jika tak mau diikat. Jadilah burung untuk terbang bebas. Ambigu menyikapi, manusia membutuhkan kebebasan untuk mendapatkan hak secara sepenuhnya. Pun begitu dalam hal asmara, tembok idealisme dan aktivisme akan jadi sangkar kebahagiaan bagi kekasih aktivis
           
                Harapannya selalu tersurat dalam coretan yang secara sadar ditulis dalam keadaan pedih karena dirinya tidak dapat menjadi apa yang diharapkan seorang kekasihnya. Terjebak dalam lorong perasaan yang amat gelap, tanpa mengetahui dimana jalan keluarnya. Melanjutkan hubungan akan semakin pedih, memutuskan hubungan akan semakin menyakitkan. Namun apabila dirasa bahwa memperjuangkannya adalah suatu hal yang dibenarkan. Maka hukumnya wajib untuk diperjuangkan. Bukan tidak tau diri namun ada suatu hal yang perlu diperjuangkan selain hak rakyat yang disandangkan kepadanya demi kebaikan bersama. Yaitu hak dirinya sendiri untuk mendapatkan cinta dan dicinta
             
Dari sekian perjuangan yang akan ditorehkan dalam tinta emas dikemudian hari, terdapat namamu dalam langkah ini. Dari sejuta mimpi untuk tatanan yang lebih baik dimasa yang akan datang, ada harapan kepadamu untuk merubah kehidupan. Jika mencintai rakyat sebuah keharusan, pun begitu dalam mencintaimu adalah sebuah ketulusan. Disambut ataupun tidak, terdapat rasa bahagia dalam romansa perjuangan ini

Panjang Umur Perjuangan !!!
Yakin Usaha Sampai
           
            
 
    
    


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Selamat Hari HAM 2021 : Semoga HAM Tidak Terdampak Erupsi

Pasca Aktivis Mahasiswa : Berpolitik Atau Ternak Lele ?

Promosi Joki Skripsi : Mentalitas Yang Tidak Dimiliki Sembarang Mahasiswa !!!