Pers Kita Saat Ini Dalam Bingkai Kontestasi Politik
oleh : Aan Robi Azis
Dunia
pers kita kenal sebagai wadah untuk menerima segala bentuk informasi bahkan
untuk menyampaikan seluruh opini publik kepada badan atau otoritas tertentu. Dalam
komplemen fungsi pers sejatinya sebagai instrumen pengambangan demokrasi, dalam
artian menyediakan yang semestinya perlu diketahui oleh masyarakat dalam proses
ataupun segala bentuk aktivitas politik. Secara historis pers di republik ini pernah mengalami masa kelam, dimasa
orde baru. Keberadaan pers saat itu dibungkam oleh rezim kekuasaan, karena pers
dianggap sebagai dalang utama dalam wacana revolusi. Menurut referensi seorang
tokoh aktivis muda Soe Hok Gie yang tertuang dalam bukunya “Buku Pesta dan Cinta
di Alam Bangsanya”, menyebutkan kebebasan pers dalam menuangkan segala sesuatu
yang berkembang di bangsa ini, pengkebirian terhadap pers pada waktu itu sangat
memprihatinkan. Media pers terkemuka menjadi sasaran razia bahkan seorang
jurnalis pun menjadi bidikan tangan kanan orde baru waktu itu. Dalam buku yang
disebutkan diatas, terdapat beberapa media pers dan karya seorang jurnalis yang
dilarang beredar, seperti majalah Tempo, Medan Prijai dan ada sekitar 80
penulis atau sekitar 500 karya tulis dilarang terbit. Salah satu sebagian milik
seorang penulis Muchtar Lubis sepeti judul bukunya Jalan tak ada Ujung, Harimau Harimau. Tak dapat dibayangkan
kehidupan bangsa pada saat itu tanpa sentuhan dari pers karena pembungkaman
yang dianggap sebagai wadah wacana perlawanan untuk mencetuskan revolusi.
Konsentrasi publik
kali ini sedang tertuju dalam hajatan pemilu serentak 2019, dari sini dapat
ditarik pers seharusnya dapat membuka mata ratusan juta masyarakat Indonesia memberikan
segala bentuk aktivitas perpolitikan yang berkembang, edukatif terhadap hal
yang berbau politik karena sebagian dari masyarakat masih antipati terhadap
perpolitkan bangsa ini karena mindset masyarakat yang sudah tidak dapat
mempercayai dunia peprolitikan kita saat ini. Namun pada nyatanya masih ada
saja lembaga pers baik dari media massa, cetak atau visual tidak berjalan dalam
koridor independen dalam memberikan materi informasi kepada khalayak umum. Independen
pers dalam momen momen seperti sekarang perlu dipertanyakan, lembaga pers tidak
concern terhadap dinamika yang
berkembang. Banyak lembaga pers dari berbagai media menggiring sebuah opini, bahkan
mereduksi sesuatu hal yang sebenarnya faktual, hanya untuk kepentingan perorangan
ataupun kelompok ataupun untuk kepentingan lembaga pers itu sendiri, ntah untuk
keuntungan rating kelompok tertentu bisa jadi untuk keuntungan finansial. Yang terjadi
adalah segala bentuk informasi yang diberikan oleh pers, asumsi masyarakat
menyebar keseluruh penjuru tanpa keabsahan berita tersebut, bukti empiris dari
output bobroknya lembaga pers saat ini banyak berbagai pihak merasa dirugikan
bahkan hal yang paling ekstrim kondusifitas negara terancam karena saling counter dari berbagai kelompok karena
berebut kemutlakan data yang disajikan oleh lembaga pers. Nuansa politis yang
diakibatkan oleh atmosfer politik saat ini sampai merambah masuk dalam diri
pers. Bukan tanpa alasan statemen tersebut dilontarkan dengan berbagai
indikator diatas. Seharusnya dalam momentum seperti ini pers menjadi garda
terdepan dengan menyalaraskan kembali fungsi pers dan cita-cita bangsa ini,
menjaga keutuhan dan persatuan bangsa. Segala bentuk penyajian guna konsumsi
publik dari berbagai kalangan, berita diringkas dengan semestinya termasuk
dunia politik, memberikan sesuatu hal yang edukatif, merubah mindset pesimisme
masyarakat terhadap pemilu serentak kali ini, kembali dalam koridor pers yang
semestinya. Karena bagaimanapun lembaga pers menjadi salah satu aspek penting
dalam kemajuan bangsa ini dimasa yang akan datang.
Comments
Post a Comment