Mengembalikan Buku Pada Tempat Muasalnya Sebagai Jendela Dunia


Oleh : Aan Robi Azis

        Buku merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan umat manusia. Melalui bukulah perihal kehidupan di masa lalu bisa diketahui pada saat ini. Bahkan kehidupan di masa depanpun bisa diprediksi secara garis besar dari informasi dan pengetahuan yang ada pada buku-buku. Tanggal 23 April telah dicanangkan oleh UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization), sebagai Hari Buku Sedunia (World Book Day). Pertama kali Hari Buku Sedunia ditetapkan oleh UNESCO pada 23 April 1995 yang lalu. Bukan tanpa alasan UNESCO menetapkan tanggal tersebut sebagai hari peringatan bagi objek yang tak bernyawa itu. Pasalnya peranan buku tidak akan pernah lepas dari dari aktivitas keseharian manusia. Baik ranah akademisi ataupun praktisi, tak luput juga segmentasi sosial, budaya, politik, ekonomi pun termuat didalamnya.
        Di abad yang sering kali kita sebut sebagai abad millenial ini, kemudahan dalam mengakses buku untuk memenuhi kebutuhan immaterial kian mudah. Kemasan buku dijaman ini tak melulu berbentuk kumpulan eksemplar.
Bahkan tak harus seseorang membawa ransel untuk membawanya. Bentuk buku semakin hari kian fleksibel, yang telah ditransisikan dalam bentuk softfile. Iya betul, sering kali pecandu buku menggunakan altenatif ini untuk memiliki buku yang dicarinya. Kendati demikian tak menjamin buku tetap menjadi madona bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu serta menggapai masa depan. Menurut Daniel Bell, ideologi atau pemikiran yang ditelusuri melalui dialektika literasi kali ini telah berakhir. Dan digantikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Artinya upaya pencarian masa depan digantikan dengan futurologi atau dilakukan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.
        Hari ini tak bisa kita mengelak dari revolusi industri yang kian pesat terutama dibidang IPTEK. Segala kemudahan mencari segala bentuk keinginan manusia apapun terpenuhi kedalam bentuk micro. Bayangkan menyimpan seluruh pengetahuan dalam jejaring dunia maya. Setiap buku dan artikel dari setiap cabang ilmu pengetahuan, setiap naskah dan setiap artefak dari budaya kuno, setiap lukisan dan rekaman musik, setiap pasang sekuen yang berbasis DNA, dan setiap cetrak biru microchip. Apapun yang sering kali kita sebut pengetahuan akan diubah kedalam bentuk digital. Diakses secara luas, dibuatkan indeks secara lengkap, dan dilacak dengan mudah. Ini bukan lagi sekedar fantasi ilmiah, tetapi benar-benar sebuah kenyataan bagi piranti yang sangat besar seperti Google. Yang sibuk memindai isi dari beberapa perpustakaan terbesar didunia.
        Sekarang perhatikan sebuah proyek alternatif, yang diimpikan oleh kelompok visioner dunia maya. Yakni Bibliotek, melalui proyek ini kita dapat mengirim surat ke masa depan (ketika kita sampai disana). Menerima surat itu dari masa lalu, menghimpun kapsul-kapsul waktu dan mengingatkan kita ketika membukanya. Serta menghimpun buku-buku untuk merekonstruksi peradaban ketika terjadi bencana global. Alih-alih untuk meningkatkan minat baca namun pada kenyataannya membuat seseorang malah malas membaca. Aspek-aspek yang saya sebutkan diatas kian membuat literasi makin tak terjamah. Yang seharusnya rekayasa dari IPTEK untuk mobilitas melek literatur kian naik. Nyata-nyatanya keberhasilan konsep futurologi lebih mengarah kepada esensi-esensi yang sedikit memiliki subtansi.
        Akankah kumpulan naskah yaitu buku telah usang, atau sudah kian tergeser tak mempunyai tempat ? Saya rasa sedikit demi sedikit, literasi sudah mulai terkikis oleh peradaban. Menilai hal tersebut tentunya dengan indikator-indikator secara empirik. Sebut saja kaum terpelajar masa kini, dimana untuk mengerjakan tugas sekolah tinggal browsing, salin tempel sesederhana itu proses belajarnya. Anak-anak jaman now lebih dikenalkan oleh ibunya tontonan video dari konten media online untuk belajar. Dibanding dengan memberikan pemahaman literasi dasar yang positif sebagai proses belajarnya.
          Hal semacam ini tak bisa dibiarkan secara terus-menerus. Akan menjadi sesuatu yang akut nantinya bagi kelanjutan meneruskan estafet peradaban. Terutama bagi generasi selanjutnya yang perlu tau asal muasal semua proses penciptaan semua ini hingga menjadi seperti apa dialami. Masyarakat yang gandrung dan memiliki tingkat literasi yang tinggi terhadap buku umumnya memiliki wawasan dan kemampuan intelektual yang memadai. Begitu pun sebaliknya, masyarakat yang rendah tingkat literasinya terhadap buku memiliki wawasan dan kemampuan intelektual yang terbatas. Keperluan seseorang dalam mengelola literasi adalah untuk mengetahui apa-apa yang belum diketahui sebelmnya. Atau bisa jadi juga mencari sesuatu yang tidak pernah dijumpai disekitarnya. Melakukan sebuah petualangan sejagat raya untuk mencari sebuah kebenaran mutlak yang masih menjadi bayang bayang dalam diri manusia. Dengan mode transport murah yaitu membaca buku.
Semenetara itu dalam diri seseorang, kekayaan literasi akan membuat seseorang lebih rasional dalam menanggapi dan bijaksana dalam pengambilan keputusan. Nalar kritis, mempunyai kebesaran hati, mudah menerima sesuatu dengan kepala dingin atau stabilitas emosional lebih terjaga oleh para pegiat lietrasi. Selain itu segala genre yang terdapat dalam buku pun akan mengubah sedikit karakter bahkan passion seseorang. Seperti halnya romance akan membuat seseorang lebih melankolis, sabar. Sarkasme akan membuat seseorang lebih tegar dan berani. Tandanya adalah seseorang perlu sebuah mentalita untuk menghadapi tantangan zaman. Optimisme akan lebih dibangun untuk menyongsong hari esok. Karena segala bentuk kebutuhan immateri tercukupi melalui buku. Sehingga mudah untuk menyusun puzzle yang semula menimbulkan celah bagi sekitar terjawab melalui sesuatu dihasilkan oleh buku sebagai bentuk aksiologi. Tulisan ini tercetus untuk mengembalikan kumpulan kertas berupa naskah kepada para pemilik yang mempunyai hak membuka jendela dunia.

Selamat Hari Buku Dunia 23 April 2019

Comments

Popular posts from this blog

Selamat Hari HAM 2021 : Semoga HAM Tidak Terdampak Erupsi

Pasca Aktivis Mahasiswa : Berpolitik Atau Ternak Lele ?

Promosi Joki Skripsi : Mentalitas Yang Tidak Dimiliki Sembarang Mahasiswa !!!