Perjanjian Rindu Pengejar Ilmu & Tetesan Perjuangan



Penulis    : Aan Robi Azis
Note        : From & For HMI Wati
              
               Dalam sejarah perjalanan hidup seseorang tentunya mempunyai kisah menarik tersendiri, Ntah pada ujung masa pencarian jati dirinya menjadi seorang akademisi maupun praktisi. Namun tentunya untuk mencapai hal tersebut membutuhkan suatu kegigihan yang berujung pada sesuatu yang mungkin tidak membuahkan keberuntungan bagi dirinya. Teringat kisah dalam sejarah perjalanan filsafat Yunani kuno, Seorang Socrates dengan tingkat kemampuan akademisi dan kepekaan terhadap gejolak disekitarnya mencari sebuah imun memecahkan gejolak melalui ilmu pengetahuan. Nyata nyata penemuan Socrates yang sebenarnya relevan ilmu pengetahuan yang ditemukannya pada waktu itu harus menelan pil pahit. Hukuman mati dengan meminum racun yang didakwa oleh pemerintahan Yunani yang berkuasa pada waktu itu harus diterimanya dengan lapang dada. Tak khayal, meskipun penemuan sebuah ilmu pengetahuan Socrates dapat menjawab persoalan pada waktu itu dianggap membahayakan bagi tirani pemerintahan. Paradigma yang dibangun kala itu oleh sosok Socrates bahwa tiada hukuman setimpal apapun untuk sebuah nilai kebeneran ilmu
              
Kini, beda masa beda pula tantangan yang dihadapi para pengejar ilmu. Hidup dijaman millennial dengan segala tingkat apatisme dan pragmatisme yang hampir menyeluruh. Berdampak pula bagi sebuah ilmu, baik disiplin ilmu maupun ilmu pengetahuan. Langkah dalam mencapai suatu titik kebenaran dalam ilmu yaitu epistemology, ontology, aksiology sudah hampir tak memiliki tempat dibumi, bumi Nusantara lebih tepatnya. Sifat apatis dan pragmatis bahkan di tunjukan oleh para kaum pelajarnya itu sendiri. Anehnya hal tersebut seakan akan didukung penuh oleh lembaga tempat dimana seorang pelajar belajar. Kini tembok besar berwajah lembaga pendidikan, kurikulum sebagai penghambat sebuah ilmu untuk syiar mengenai kebaikan didalamnya
               Belum lagi, menyikapi sebuah nyinyiran lucu. Kedalaman ilmu dan ketajaman pemikiran seseorang patutlah dicurigai sebagai sebuah ancaman. Tak jarang bagi para pengejar ilmu mendapat sematan sebagai seorang yang tak layak untuk tinggal secara kolektif. Kadang hinaan, cacian asupan tiap hari yang sudah menjadi sarapan dipagi hari, makan siang diwaktu bolong, makan malam dikala gentingnya kekuasaan yang semena mena. Seperti banyak cara pengungkapan kebencian, ada yang mengeluarkan dari pergaulan, bahkan gamblang secara persuasive dihadapannya. Anehnya hal seperti ini terasa sangat manis bagi para pengejar ilmu serasa semakin sakaw untuk bergelut dengan paradigma yang sedang dibangun hari ini perihal ilmu dan pengejarnya
-
               Konteks lain, dalam sebuah romansa. Identitas aneh, norak, sok tua menjadi identitas istimewa bagi pengejar ilmu. Apalagi dalam hal hati, ada analogi menarik yang ingin dibangun sebagai study cassus. Perempuan borjouis beriringan dalam ikatan bersama seorang pengejar ilmu yang notabene memiliki sifat sosialis. Dimana sifat acuh yang biasanya diperlihatkan oleh para cendekiawan muda terhadap hal hedon membuat nadirnya sebuah hubungan sebuah asmara. Kembali dalam sejarah, ketika seorang Habibie yang ditemani dengan tulus oleh Ainun membuat tersentuh semua kalangan tak terkecuali seorang millennial sekalipun, namun hanya segelintir yang mampu menerimanya. Seketika kekasih terbaik berupa buku buku dan yang diterapkan dengan kepedulian kepada sesama tak mampu menjadi alasan supaya dapat meluluhkan hatinya. Ambigu dalam menyikapinya memang, apalagi konsekuensinya tekanan batin dan hati. Lantas apakah seorang manusia bisa menerima hal seperti itu ? sebagaimana fitrah manusia hanya sebagai mahkluk yang penuh dengan kekurangan
               Ranah lain, puncak dari ilmu yaitu penerapan nilai nilai kebenaran. Dimana jeli melihat sebuah kekuasaan yang sewenang wenang. Tanpa diminta para pengejar ilmu akan terpanggil dengan sendirinya. Melakukan perlawanan melalui jalan pemikiran tak terkadang opsi terakhirnya dengan turun kejalan meneriakkan. Dianggap sudah tidak ada yang beres dalam tatanan melalui objektifitas ilmu sehingga tergerak untuk ikut andil. Disisi lain, kontradiktif terbangun. Kembali cacian, hinaan jadi santapan, bahkan nyawa yang hilang dalam langkah perjuangan sudah tak mendapat empati
               Sekedar mengingatkan bahwa dari seluruh rentetan dan perjalanan persitiwa yang mensejarah, memiliki sebuah puncak kerinduan akan ilmu yang kembali pada masa kejayaannya. Mungkin dalam hal lain, pengejar ilmu dapat merindu keluarga terkasih, kekasih dambaan. Namun subtansial dari pengejar ilmu dalam tetesan perjuangannya menginginkan ilmu dapat kembali membumi menyinari peradaban. Karena nilai nilai dari sebuah ilmu hanyalah terkandung nilai nilai kebenaran, baik kebeneran secara parsial ataupun universal
Apabila dalam perjalanan perjuanganmu menemui titik kepahitan dan kesengsaraan, namun terdapat kebahagiaan didalamnya, tandanya perjuanganmu berada dijalan yang benar !!!

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Selamat Hari HAM 2021 : Semoga HAM Tidak Terdampak Erupsi

Pasca Aktivis Mahasiswa : Berpolitik Atau Ternak Lele ?

Promosi Joki Skripsi : Mentalitas Yang Tidak Dimiliki Sembarang Mahasiswa !!!