72 Tahun HMI: Mempertahankan Semangat KeIslaman dan KeIndonesiaan, Pembaharuan Pemikiran dan Gerakan Sebagai Bentuk Reaktualisasi Tujuan HMI
Tepat 72 tahun silam, sejarah besar
tercipta dengan berdirinya sebuah organisasi yang bergerak dikalangan pemuda terpelajar
di kota pendidikan Yogyakarta. Himpunan Mahasiswa Islam lahir 5 Feberuari 1947
yang diprakarsai oleh Lafran Pane beserta 14 saudara sehimpun lainnya pada saat
itu. Bukan tanpa alasan mereka mengasiliasi berdirinya organisasi ini,
panggilan hati atas kondisi kejumudan umat islam Indonesia dan dunia pada saat
itu serta masih rentannya perpecahan dalam kehidupan bernegara karena
kedatangan bangsa yang jauh kembali lagi ke negeri ini untuk menjalankan misi
kolonialisme kembali mengingat umur bangsa masih sangat muda pada waktu itu. Tujuan awal berdiriya HMI yang
termaktub menjadi frasa yaitu (1) Mempertahankan negara Republik Indonesia dan
mempertinggi derajat bangsa Indonesia (2) Menegakkan dan mengembangkan ajaran
islam. Dari frasa tersebut ditariklah sebuah komitmen yang melekat dalam diri
anggota HMI sebagai Kader Umat dan Kader Bangsa.
Sejarah pernah mencatat
kegemilangan organisasi dalam perjalanan
bangsa Indonesia hingga sekarang ini. Mulai ikut serta dalam mempertahankan
kemerdekaan Republik ini dari ancaman, baik ancaman dari luar ataupun dari
dalam negeri sendiri. 1945-1947 kembalinya Belanda untuk melancarkan agresi
militer ke II, 1949 serangan dari dalam oleh PKI yang dimulai dari Madiun Affair.
Kader HMI turut terjun berjuang melalui gerakan angkat senjata sekalipun pada saat itu. Mampu mengentaskan persoalan yang pelik, krisis kepercayaan terhadap pemerintahaan Orde Lama dibawah pimpinan Soekarno yang pada akhirnya lengser pada tahun 1966 atas dasar Tritura atau tiga tuntutan rakyat. Kepemimpinan negara berganti ketangan sang jenderal Soeharto,mempimpin selama 32 tahun pada akhirnya juga lengser pada tahun 1998 dengan sebutan peristiwa reformasi, karena maraknya KKN pada waktu itu dan yang paling menonjol adalah krisis moneter yang melanda negara. Dari rentetan peristiwa tersebut tak pernah lepas dari peranan anggota HMI dalam solusi penyelesaiannya.
Kader HMI turut terjun berjuang melalui gerakan angkat senjata sekalipun pada saat itu. Mampu mengentaskan persoalan yang pelik, krisis kepercayaan terhadap pemerintahaan Orde Lama dibawah pimpinan Soekarno yang pada akhirnya lengser pada tahun 1966 atas dasar Tritura atau tiga tuntutan rakyat. Kepemimpinan negara berganti ketangan sang jenderal Soeharto,mempimpin selama 32 tahun pada akhirnya juga lengser pada tahun 1998 dengan sebutan peristiwa reformasi, karena maraknya KKN pada waktu itu dan yang paling menonjol adalah krisis moneter yang melanda negara. Dari rentetan peristiwa tersebut tak pernah lepas dari peranan anggota HMI dalam solusi penyelesaiannya.
Kegemilangan HMI tersebut dikarenakan
para anggotanya memegang teguh semangat KeIslaman dan KeIndonesiaan dalam
gerakannya. Ideologi dalam diri HMI nyata nyata mampu menjawab berbagai
persoalan dalam masyarakat luas, yaitu ajaran yang terkandung dalam islam.
Karena proses pendirian hingga segala aktivitas HMI tak pernah lepas dari semangat
teologis yang utuh dari seorang pendiri HMI, ayahanda Lafran Pane yang
berkeinginan agar Islam menjadi kerangka berfikir, bersikap, dan berperilaku
dalam berbagai aspek kehidupan. Senada dengan yang dilontarkan oleh guru bangsa
Indonesia Nurcholis Madjid, bahwa islam tak hanya dimaknai sekedar peribadatan,
bahwa terkandung sebuah nilai-nilai estetika dalam Islam untuk penerapan
kehidupan bermasyarakat. Seorang pemikir Islam kontemporer Ali Syariati berani
mengatakan bahwa Islam bukan hanya sebatas agama namun Ideologi, buah pemikiran
Ali Syariati Islam sebagai Ideologi adalah : Islam sebagai kepercayaan yang
dipilih secara sadar untuk keperluan dan menjawab persoalan-persoalan manusia.
Tak khayal HMI selalu menjadikan Islam sebagai landasan dalam berpikir maupun
berjuang. Namun bukan berarti fokus utama HMI adalah masalah keutamaan saja,
kembali kepada komitmen awal sebagai kader Umat dan Kader Bangsa. Segala bentuk
dinamika yang menghampiri bangsa ini juga menjadi perhatian khusus HMI.
Sentuhan dan seni dari anggota HMI sangat dibutuhkan baik dari segi pemikiran
ataupun bentuk implementasi disegala bidang apapun. Terbutki sampai sejauh ini
perkembangan dan pertumbuhan bangsa ini tak lepas dari sumbangsih HMI baik dari
anggotanya maupun alumni HMI
Berbeda dengan kondisi HMI sekarang
yang seakan akan terbuai akan euforia kecermelangan HMI dimasa lalu, baik
melalui cerita dari mulut ke mulut, dokumentasi nasional ataupun arsip berupa
buku bacaan. Rasa bangga dan kecintaan
kepada organisasi ini hanya berdasar besarnya organisasi dan tinta emas yang
bernah ditorehkan tanpa adanya sebuah revolusi dari dalam diri organisasi ini
sendiri untuk sebuah konsep yang lebih segar demi terwujudnya tujuan HMI. Saya
merasa bahwa rasa jenuh dari organisasi ini sudah ada dititik terendah,
dimana nilai dasar perjuangan sudah mulai ditinggakan oleh para anggotanya
sendiri. Ditambah lagi oknum anggota yang menjadikan organisasi sebesar HMI
hanyalah tumpangan untuk berpolitik atau mengambil kesempatan dari kontestasi
politik atas nama organisasi hanya untuk kepentingan pribadi. Arogansi dari
para anggota HMI dalam pergerakannya sama sekali tidak mencerminkan sifat
ataupun budaya ketimuran yang dijunjung oleh organisasi ini dalam bergerak.
Stagnasi dalam bentuk kekaryaan ataupun kontribusi sudah mulai terlihat. Tak
khayal seorang Alvan Alvian menuliskan dalam bukunya yang berjudul 44 Indikator Kemunduran HMI. Ekspresi
dari buah idealisme para anggotanya hanya sebatas huru-hara dan heroisme
jalanan tanpa solusi yang kongkrit dengan mengedepankan pendekatan intelektual.
HMI masih belum pernah lepas dari kisah masa lalunya hingga sekarang tanpa ada
sebuah itikad untuk mengimprove segala bentuk aktivitas organisasi ini. Hampir
dikatakan hampir tidak ada gagasan cerdas yang disumbangkan oleh HMI ditengah
carut-marutnya tatanan republik ini, jauh dari cita-cita reformasi yang juga
diperjuangkan oleh para aktivis dari organisasi ini seperti disintegrasi
sosial, perbaikan ekonomi, supremasi hukum. Mengingat bahwa negara ini sedang
mengalami permasalahan yang sangat kompleks serta kriris dimensional. Tetapi
keberadaan HMI ditengah kondisi ini, komitmen sebagai kader umat dan kader
bangsa hanyalah sebatas slogan tanpa nyawa
Sudah jauhnya anggota HMI dari
landasan ideologinya, nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) berimbas kepada
perkembangan organisasi ini. HMI dimasa sekarang seolah-olah mudah dipecah
belah, mulai kadar solutifnya lagi keberadaan HMI ditengah tengah masyarakat
sudah sedikit dirasakan, mediator atau
mitra kritis bagi pemerintahan pun berubah orientasinya hanya untuk
eksistensi diri dengan huru hara, jalan pragmatisnya heroisme jalanan yang saya
sebutkan diatas. Semakin tumpulnya analisator ulung HMI untuk memecahkan suatu
permasalahan yang berkembang. Ruang ruang akademis untuk mengekploitasi potensi
sudah mulai ditinggalkan. Pernah terdengar dari sebuah celetuk mantan ketua
umum HMI Komisariat Lumajang periode 2015-2016 “sesuatu hal yang tidak pernah
dimiliki oleh anggota organisasi manapun dan menjadi sebuah ketakutan apabila
berhadapan dengan anggota HMI, ialah nalar dan literasi dalam sebuah
permasalahan yang sangat kompleks dengan khas pola pikir seorang intelektual
religius”. Hal itu sudah mulai terasa, bahkan HMI secara lingkup nasional.
Majelis majelis religi dan spiritual dimasa sekarang bahkan anggota HMI tak
mampu mengambil peran. Terlalu tingginya politic
oriented sehingga nilai keislaman jarang sekali dijamah
Membiarkan hal ini terus terjadi
sepertinya kita hanya menunggu kepunahan organisasi yang amat memberikan
harapan bagi masyarakat Indonesia seperti yang pernah diucapkan oleh Jenderal
Sudirman. Perlu sebuah pembaharuan dalam diri organisasi ini. Terutama dari
segi fundamental, menghidupkan kembali semangat juang yang berasas islam.
Seperti saya singgung diatas proses pendirian hingga segala aktivitas HMI tak
pernah lepas dari semangat teologis yang utuh dari seorang pendiri HMI,
ayahanda Lafran Pane yang berkeinginan agar Islam menjadi kerangka berfikir,
bersikap, dan berperilaku dalam berbagai aspek kehidupan. Implementasi nilai
keislaman untuk kegunaan menjawab tantangan jaman dari modernism, memberikan
jawaban islami yang tidak sekedar meneriakkan slogan-slogan, tetapi dengan
berdalih pada kekayaan tradisi intelektual islam dan penggunaan logika serta akal
budi sebagaimana diperintahkan dan diilhami oleh Al-Quran. Perlu rekontruksi
aqidah untuk menyelamatkan anggota HMI dari ruang akademis yang mengarah
terhadap sekularisme dalam fenomena post-modern ini. Di era millenial ini
forum-forum pembahasan persoalan umat dan persoalan keislaman seakan-akan sudah
menjadi sesuatu yang dianggap alergi oleh kader HMI sendiri dimasa sekarang.
Padahal, gerakan yang dibawa HMI sejak dilahirkan hingga perjuangan adalah
salah satunya gerakan Intelektual. Gerakan tersebut bukan gerakan sembarangan
tanpa memiliki landasan nilai tertentu, tetapi merupakan gerakan intelektual
religius. Gerakan ini diharapkan mampu membawa perubahan yang berkelanjutan
ditengah masyarakat, untuk memberikan jawaban ataqs berbagai persoalan keumatan
yang sedang terjadi.karena itu, perlu dilakukan suatu upaya untuk
mengaktualisasi kembali semangat gerakan intelektual religius, gerakan yang
tidak hanya membawa perubahan yang bersifat temporal tapi berkesinambungan
sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Penyatuan aqidah untuk menyatukan visi
bahwa kemiskinan, kebodohan, penindasan dan keterbelengguan adalah warisan
filsafat dan Islam untuk diselesaikan secara berkesinambungan. Menempatkan
kembali kapasitas dan makna dalam Al-Quran sebagai landasan paling dasar untuk
bergerak, media solutif sehingga peranan anggota HMI tak hanya dipandang
sekedar heroisme amoral yang jauh dari sebutan intelektual muda islam. Tentunya
keadaan bangsa sekarang dengan berbagai polemik dan permasalahan kompleks
menjadi suntikan tersendiri bagi HMI untuk memecahkan dan kembali menjadi
sebuah pioneer dalam pengentasan segala kejumudan negeri ini. Dengan beberapa
aspek tersebut bukan sesuatu yang nisbi bahwa terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai allah subhanahu ta’ala
akan benar benar hidup bukan sekedar narasi besar belaka.

Comments
Post a Comment