Sastra & Cinta Seorang Aktivis
Penulis : Aan Robi Azis
Tulisan ini terinspirasi dari seseorang aktivis yang saya kenal dengan baik.
Tulisan ini terinspirasi dari seseorang aktivis yang saya kenal dengan baik.
Gairah dan semangat yang menggelora, jiwa
kritis terhadap dinamika yang berkembang
di lingkungan sekitarnya sudah identik dengan identitas pemuda yang dinamakan
seorang aktivis. Hampir seluruh waktu kehidupan sehari harinya dihabiskan
diluar rumah berkumpul bersama rekan satu komunitas ataupun organisasinya,
pembahasan mulai dari Kajian Ilmiah, Sosial, Budaya dan Politik sudah menjadi
makanan sehari hari. Semangat yang berapi api, kritis, tanggap dan peka terhadap segala sesuatu problema yang
berkembang membuat seorang aktivis terkadang sampai melupakan atau bahkan
mengesampingkan urusan pribadinya sendiri hanya untuk kepentingan umat atau
orang banyak bahkan dalam masalah yang digandrungi pemuda atau pemudi pada
umumnya yaitu asmara. Kisah asmara seorang aktivis hampir tak terekspose jarang
ditemui. Mungkin saja hanya sebagian kecil yang terlintas dalam benak aktivis
dalam hal asmara, selebihnya yang menjadi prioritas menjalankan kegiatan kegiatan komunitas
ataupun organisasinya. Jangankan dalam hal asmara dalam kehidupan pribadinya
seorang aktivis terkadang mengabaikan dirinya sendiri dari segi penampilan,
trending trending anak muda pada umumnya bahkan rela meninggalkan rumah demi
sesuatu yang digelutinya. Lantas demikian tidak berarti seorang aktivis tidak
merasakan sesuatu hal yang dinamakan cinta
Tidak ada seorang didunia ini dapat
menghindari sesuatu yang disebut cinta. Termasuk cinta terhadap sesama, kepada
orang yang dipujanya ntah karena kriteria tertentu ataupun dari segi paras
masing masing selera pribadi. Menarik mengupas kehidupan seorang aktivis yang
hampir tak terekspose terutama aktivis kampus. Berangkat pagi ke kampus untuk
memenuhi kebutuhan akademik, saat jam kegiatan belajar mengajar selesai tak
kunjung beranjak pulang tujuannya sekretariat organisasi yang diikuti, masih
melaksanakan kajian ilmiah, diskusi ataupun rapat harian untuk mengagendakan
suatu event baik organisasi Intra kampus ataupun Ekstra kampus. Dari indikasi
kehidupan tersebut bisa dijadikan tolak ukur seorang aktivis enggan memikirkan
maslah percintaan. Namun juga ada sebagian seorang aktivis yang menjalin
asmara, namun kebanyakan study kasus, hubungan asmara seorang aktivis harus
putus ditengah jalan, banyak sekali alasan mulai tidak adanya waktu untuk
menjalakannya karena harus berbenturan dengan kesibukan sehingga salah satu
pihak merasa tidak diperhatikan
Namun sesuatu hal yang menarik saat
seorang aktivis mempunyai seorang pujaan hati, sudah sesuai dengan kriteria
ketetapan pasangan namun ada suatu penghalang yang tak dapat seorang aktivis
mendapatkannya. Terlalu menjunjung tinggi Idealismenya, fokus pada satu titik
yang ingin dicapainya membuat seorang aktivis harus memendam bahkan harus
terkubur saat sang pujaan hatinya menemukan pelabuhan hatinya yang lain atau
karena tidak terlalu percaya diri dengan passion dirinya dengan pemikiran
revolusioner atau dunianya yang berbeda dengan sang pujaan hati. Ketika cinta
seorang aktivis tidak dapat terungkap hanya mampu terwakilkan oleh goresan
goresan tinta pena tentang perasaannya. Justru dari hal tersebutlah
keromantisan seorang aktivis terjalin, melaui tulisan tulisan yang tersusun
rapi di buku sakunya yang ditulis disela sela hirup pikuk kesibukannya.
Mengingat bahwa kamus ataupun kosa kata yang sangat kaya seorang aktivis yang
diperoleh dengan menghatamkan banyak buku bacaan menambah nilai estetika
tulisan tentang asmaranya. Saat bibir tak mampu mengucap sastralah yang dapat
mewakilkan. Mungkin hanya sekilas bertemu dengan sang dambaan dikampus ataupun
tempat publik bisa jadi kebahagiaan tersendiri walau tak dapat berada dekat
disampingnya. Terlalu fokus terhadap apa yang sedang dikerjakannya, keinginan
untuk kehidupan yang lebih baik bagi umat disekitar, tekad bulat untuk
menggapai mimpi dan cita cita menjadi alasan kuat untuk tidak mengkhianati
komitmennya.
Naïf mungkin saat Idealisme harus dibenturkan dengan Asmaraisme
yang sejatinya tidak akan berjalan seiringan, disaat mimpi mimpi mengenai rakyat dimasa yang akan
datang harus direcoki dengan hal hal yang dapat mengubur konsep dan wacana yang
telah disusun matang. Namun tidak dapat dipungkiri karena sifat alamiah seorang
manusia, rindu bisa datang kapan saja dan parahnya juga tak dapat melakukan apa
apa. Kembali lagi si buku saku menjadi tempat curhatan paling setia
mendengarkan. Sebenarnya tak perlu seorang aktivis membuang jauh jauh cinta
dari dalam dirinya karena jelas tuhan menciptakan manusia sudah lengkap satu
set dengan segala sesuatu isi didalamnya termasuk mengenai cinta. Ketegraran
seorang aktivis terhadap kegelisahannya perkara hal asmara yang meracuni tanpa menemukan
obat penawar dengan mengungkapkan isi hatinya adalah bentuk kedewasaan , karena
mungkin supaya Idealisme tidak tenggelam dalam lautan Asmaraisme. Aktivis
tetaplah bediri diatas kaki diri sendiri, junjung tinggi Idealisme yang sudah
tertananam, hidup dengan passion diri sendiri untuk mencapai tujuan karena
segala bentuk apapun kegiatan ataupun yang dilakukan adalah bentuk nyata
kecintaan terhadap sesuatu
Mencintai Umat
bagian dari mencintaimu , memikirkan rakyat juga bagian dari memikirkanmu. Panjang
Umur Perjuangan, Yakin Usaha Sampai !!!

mantap tuan :)
ReplyDeleteTerima Kasih . hehe
ReplyDeleteBagus tulisannya mas😄👍
ReplyDelete