Sejarah Mengatakan Bahwa Pemuda Sebagai Tonggak Perjuangan Kehidupan Bangsa, Mari Bung Rebut Kembali !

Sejarah Mengatakan Bahwa Pemuda Sebagai Tonggak Perjuangan Kehidupan Bangsa, Mari Bung Rebut Kembali !

Penulis : Aan Robi Azis



       Jika kita sedikit menoleh kebelakang sejarah kemerdekaan Negara Republik Indonesia tidak lepas dari peran pemuda yang dipelopori oleh pemuda pemuda yang mempunyai jiwa nasionalisme dan  patriotisme yang luar biasa, tekad dan juang yang keras akan kemerdekaan bangsa dan tanah air tecintanya antara lain disebutkan seperti Soekarni, Wikana, Aidit dan Chaerul Shaleh yang melakukan penculikan terhadap Soekarno untuk segera memplokamirkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang terkenal dengan peristiwa rengas dengklok 16 Agustus 1945. Terlepas dari itu golongan tua tidak selaras dengan golongan pemuda, karena suatu pemikiran atau jiwa berbeda angkatan yang membuat banyak perselisihan menjelang kemerdekaan Negara Republik Indonesia, namun berkat strategi dan kegigihan golongan muda pada akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 Bung Karno membacakan proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang disambut suka cita oleh seluruh rakyat Indonesia.
       Pasca merdeka pemuda tetap menjadi tonggak perjuangan dengan adanya gerakan gerakan melawan tirani yang digawangi oleh para mahasiswa pada saat itu antara lain meruntuhkan kekuasaan Pemerintahan Orde Lama yang dipimpin oleh Soekarno dan bekas pejuang revolusi jaman Hindia-Belanda pada saat itu, dengan tuntutan yang disebut Tritura atau Tiga Tuntutan Rakyat dengan menuntut Membubarkan Pemerintahan Orde Lama, Turunkan Harga Kebutuhan Pokok, Bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan mengataskanamakan perjuangan AMPERA (Amanat Penderitaan Rakyat) karena pada saat itu pemuda pemudi terpelajar Indonesia menganggap bahwa Soekarno telah memulai rezim kekuasaannya dengan mendeklarasikan dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia seumur hidup, mereka juga muak terhadap politik konspirasi Soekarno dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Melalui rentetan aksi oleh para mahasiswa yang notabene adalah seorang pemuda pada akhirnya Pemerintahan Orde Lama runtuh pada tanggal 11 Maret 1966. Kehidupan berbangsa dan bernegara dimulai dengan keoptimisan sejalan dengan pemerintahan Orde Baru dimulai yang dipimpin oleh Soeharto yang menggantikan Soekarno atas prestasinya menangani isu PKI pada waktu itu. Namun dengan berjalannya waktu kebusukan dan keditaktoran seorang Soeharto mulai tercium oleh kaum pemuda intelektual pada saat itu karena dalam pemerintahan yang sudah tidak sehat dengan adanya praktek Korupsi Kolusi dan Nepotisme, pembungkaman terhadap hak kebebasan berpendapat tak luput dari perhatian. Banyak tuntutan dari mahasiswa terutama supaya  Soeharto turun pada saat itu dengan mempertimbangkan hal hal perbaikan seperti Terciptanya Demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Supremasi Hukum, Amandemen UUD 1945, Pencabutan Dwi Fungsi ABRI. Mahasiswa melakukan aksi turun jalan pada waktu itu dengan upaya supaya tuntutan mahasiswa dikabulkan, namun sangat disayangkan mahasiswa sebagai pihak Kontradiksi dari pemerintah justru mendapatkan perlakuan dari ganasnya kekuasaan rezim Soeharto, masih terniang tragedi Trisakti 12 Mei 1998 yang memakan korban jiwa atas intimidasi yang menjadi praktek kegagahan militer dibawah pimpinan Soeharto, dengan adanya peristiwa tersebut tak menggendorkan semangat mahasiswa justru gerakan gerakan menentang Orde Baru meluas hingga ke daerah daerah di seluruh penjuru Nusantara. Melihat kondisi dan situasi semakin buruk, chaos terjadi dimana mana dengan legowo Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 dengan kata lain Reformasi telah lahir
          Namun Reformasi belum berkahir, euforia kemenangan terhadap suatu rezim tak boleh berlarut larut, cita cita reformasi tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus dipikul oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia terutama para Pemuda Pemudi hingga saat ini. Tapi ironisnya dewasa ini yang dilakukan oleh kebanyakan para pemuda pemudi bangsa tidak sesuai oleh apa yang diharapkan oleh para pendahulunya. Sikap pemuda yang hampir tidak melakukan hal hal yang Produktif justru cenderung mengarah kepada sikap Konsumtif atas ketidakberdayaan menerima pengaruh arus globalisasi yang semakin maju, pernah terdengar obrolan menggelitik "Pemuda sekarang jangankan memikirkan nasib bangsa dan negaranya, membicarakannya pun hampir sangat sulit ditemui". Sikap apatis dan hedonis terhadap sekitar hanya uintuk kesenangan semata bagi diri sendiri justru menjadi opsi pertama yang diitempuh pemuda pemudi sekarang. Kenyataan tersebut tak dapat ditampik dengan kenyataan yang dapat dilihat dengan kasat mata saat pusat perbelanjaan mall ramai dikunjungi oleh muda mudi yang lalu lalang dibandingkan perpustakaan yang hampir tak terjamah sepi sunyi tanpa peminat, bahkan perbedaan mencolok juga terlihat antara kaum pemuda terpelajarnya mulai dari pemuda kritis yang bergelora ketika aksi demonstrasi hingga pemuda yang hobi hura hura, pesta bahkan seks bebas, buku buku sudah dianggap tak menarik dibanding headline sosial media, pendidikan hanya sebagai formalitas supaya tidak kalah dengan tetangga sekitar dalam hal status sosial. 
         Kesejahteraan sosial, kemiskinan, korupsi masih menjadi pekerjaan rumah tak akan pernah usai yang seharusnya sudah menjadi bagian dari cita cita reformasi yang menjadi tanggung jawab pemuda. Mungkin pendahulu kita pemuda yang mempunyai jiwa yang lantang dan gigih untuk perubahan kehidupan bangsanya kearah yang lebih baik akan menangis melihat kondisi sekarang yang amat mengenaskan. Namun apakah itu sudah menjadi kiamat dini bagi negara ini ? tentunya tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semua yang pernah diwacanakan, masih ada waktu untuk berbenah mengejar ketertinggalan sekarang ini. Luangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk hal hal yang lebih bermanfaat, buka dan baca kembali buku buku yang tersimpan rapi yang hampir tak terjamah tersebut, tak perlu kita menghadang laju globalisasi karena pada dasarnya globalisasi tak dapat dibendung tapi hanya bisa disikapi dengan pemikiran jernih, positif, tak terlalu terbawa arus. Tanamkan sikap nasionalisme dan patriotisme yang hampir pudar sehingga spirit untuk bangkit masih terus menggaung dan juga disisi lain dapat menepis hal hal negatif dari luar. Bahwa kemauan untuk berubah bagi diri bangsa ini sendiri lah yang akan menghantarkan negara ini menjadi bangsa impian para pendahulu, makmur dan sejahtera rakyatnya, cerdas pemudanya. Jangan pernah bosan untuk belajar demi kebaikan diri sendiri terutama untuk kebaikan lingkungan sekitar. Mari bung, gelorakan kembali semangat pemuda pendahulu kita untuk merebut kembali kejayaan pemuda yang pernah tercatat oleh sejarah. Panjang umur perjuangan, surat terbuka untuk pemuda  pemudi, hiduplah lebih baik karena bangsa ini butuh uluran gengaman tangan dan pijakan kakimu hari esok. 
"Berikan aku 10 ribu orangtua akan kucabut gunung semeru sampai ke akar akarnya, tapi berikan aku 10 pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia" Putra sang Fajar - SOEKARNO
          

Comments

Popular posts from this blog

Selamat Hari HAM 2021 : Semoga HAM Tidak Terdampak Erupsi

Pasca Aktivis Mahasiswa : Berpolitik Atau Ternak Lele ?

Promosi Joki Skripsi : Mentalitas Yang Tidak Dimiliki Sembarang Mahasiswa !!!