Pemilu Tak Lebih Hanya Sekedar Tradisi Lima Tahunan Sekali ?
Pemilu Tak Lebih Hanya Sekedar Tradisi Lima Tahunan Sekali ?
Penulis : Aan Robi Azis
Sudah kita ketahui bahwa Negara Republik
Indonesia adalah Negara demokrasi dengan artian bentuk atau sistem pemerintahan
yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantara wakilnya sebagai
pemerintahan rakyat .Demokrasi dalam artian sempit tidak lain adalah dari
rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat, dengan demikian rakyat dapat berpatisipasi
baik memberikan kritik maupun aspirasi kepada pemerintah untuk sadar bahwa
kesejahteraan rakyat yang jadi prioritas. Oleh karena itu sebagai negara yang
menerapkan kehidupan berdemokrasi, sebuah pesta demokrasi atau sering kali
disebut pemilu bisa diartikan sebuah kewajiban bagi negara ini untuk mewujudkan
nilai-nilai demokrasi tersebut, selain itu masyarakat berperan aktif secara
langsung dalam menentukan pemimpin yang ideal dalam menentukan masa depan
bangsa
Pasca refomarsi negara ini sudah mulai membangun
kehidupan berdemokrasi di Indonesia, negara ini pertama kali menyelanggarakan
pemilu secara langsung pada tahun 2004 untuk pemilihan presiden dan legislatif.
Hingga saat ini negara kita telah banyak melaksanakan edisi pemilu, namun pada
kenyataannya dari beberapa edisi pemilu yang terselenggara selama ini hampir sama
sekali tak membawa perubahan yang signifikan terhadap kelangsungan kehidupan
bangsa dan negara dimana kesenjangan yang masih sangat tinggi, sering kita
lihat pemuda yang lalu lalang kebingungan mencari pekerjaan yang dapat
diartikan bahwa angka pengangguran pun juga demikian tinggi, dari segi
pelayanan kesehatan maupun sistem pendidikan yang tak kunjung mengalami perbaikan.
Lantas apakah sistem demokrasi yang diterapkan di negara ini untuk mencari
pemimpin menentukan nasib bangsa melalui pemufakatan rakyat gagal selama ini ?
Kalau boleh berpendapat bahwa pemilu hanya sebagai ajang politik untuk
kepentingan kelompok ataupun golongan saja hanya sedikit dipolesi pemanis dengan
dalih demi kepentingan rakyat. Pemilu tak lebih sebagai pentas bagi kaum elite
politik dengan berbagai poli-triknya untuk mencari kekuasaan. Yakni, berpolitik
untuk berkuasa
Karena keberhasilan
dalam berpolitik mereka menganggap adalah bagaimana suatu kelompok ataupun
golonganya berhasil dalam membangun kekuasaan sebanyak banyaknya. Jika faktanya
demikian maka tidak khayal bahwa memprioritaskan kepentingan rakyat hanya angan
belaka mengingat kepentingan kelompok atau golongannya masih diatas
segala-galanya. Apalagi dalam politik untuk mencari kekuasaan terkadang dengan
menghalalkan segala cara sering kali tak jarang bahwa juru kampanye (jurkam)
menggunakan bahasa-bahasa sara untuk meneguhkan kelompok atau golongannya yang
terbaik. Agama selalu dibajak hanya untuk kepentingan politiknya. Bahkan yang
lebih parah dari hal ini adalah intimidasi terhadap masyarakat bahwa barang
siapa yang tidak sejalan ataupun mendukung kelompok atau golongan tersebut
dianggap sudah tidak setia atau lebih ekstrimnya dengan berani mengatakan
menyimpang dari ajaran keyakinannya. Terror kepada lawan politik pun sudah
tidak dengan siasat yang cantik, dengan fulgarnya antar golongan saling
menjatuhkan bahkan cenderung merendahkan bahkan dengan cara cara busuk yang
sama sekali tidak mencerminkan sebagai seorang negarawan. Hal yang tidak lebih
memuakkan lagi adalah saat suatu golongan tak mampu menyusun strategi dan
taktik sehingga pada akhirnya uang yang berbicara demi berhasilnya suatu misi
memenangkan pertandingan. Pada dasarnya, money
politics merupakan indikasi dari ketidakberdayaan untuk bersaing secara fair dalam berpolitik. Money politics kerap kali
dilakukan oleh parpol besar yang mempunyai modal yang sangat besar sehingga
dapat menarik simpatisan ataupun jumlah massa yang sangat banyak. Langkah ini
dilakukan dengan maksut supaya tidak ditinggalkan oleh pengikutnya dengan
tujuan tetap menjadi parpol yang berkuasa. Ironis memang bagi parpol kecil yang
tidak mempunyai modal besar sangat kesulitan untuk mengepakkan sayapnya lebih
jauh lagi. Maka dari itu sudah tidak bisa dibantah lagi bahwa sistem
perpolitikan di negara ini hanya ladang bagi kaum kaum kapital untuk mencari
kekuasaan. Potret seperti ini sudah tidak anggap lagi sebagai hal yang tabu bahkan
bisa dianggap sebagai hal yang ladzim bagi mereka. Kalau boleh beprasangka baik
mungkin kelompok kelompok tersebut pengikut setia ajaran Niccolo Machiavelli
bahwa dalam berpolitik morralitas tak seharusnya menjadi pedoman, bahwa dengan
morallitas misi akan kemenangan dalam berpolitik tidak akan tercapai.
Fakta tersebut
juga berakibat kepada tingkat ketidakkepercayaan rakyat terhadap pemerintah relatif
besar banyak alasan sebenarnya, karena rakyat merasa kecewa terhadap para
politisi saat ini tidak membawa perubahan bagi rakyat. Itu juga menjadi salah
satu pendorong golput. Secara subtansial bahwa golput adalah ketidak pedulian
masyarakat akan nasib bangsanya, tapi dibalik itu semua ada alasan yang sangat
kuat bagi masyarakat untuk golput. Salah satunya karena rakyat muak dengan
oligarki oleh partai politik bahwa pemilu rakyat tidak lebih digunakan sebagai
senjata demi melancarkan tujuannya menguasai negara. Sangat salah menghakimi
warga negara yang golput adalah apatis tidak peduli terhadap bangsanya, justru
mereka memilih golput dilandasi motif yang rasional tanpa suap. Banyak yang
beranggapan bahwa “sama saja mas, nyoblos atau tidak hidup tetap susah”. Kalau sudah
begitu apa daya mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah
Perlu diketahui
bahwa langkah pemerintah untuk menggelar suatu pesta demokrasi kucuran dana
yang dikeluarkan oleh pemerintah supaya terselenggara pemilu cukup besar sekali.
Sangat disayangkan sekali apabila momentum terbaik sepeti halnya pemilu hanya
dijadikan sebagai ladang untuk berlomba lomba mencari kekuasaan semata. Sudah sepatutnya
meluruskan niat terlebih dahulu sebelum berpolitik. Berpolitik untuk rakyat. Idtikad
itu tidak membutuhkan sebuah retorika apalagi janji, melainkan tindakan nyata. Berpolitik
untuk rakyat bukan hanya sekedar teriak atas kepentingan rakyat dalam sebuah
kampanye. Berpolitik untuk rakyat berarti berpolitik untuk mengabdi kepada
kepentingan, kesejahteraan, dan kehidupan bangsa yang lebih baik. Tanpa menyampingkan
pihak penyelenggara pemilu yang sudah bekerja ekstra untuk terwujudnya
demokrasi yang sehat demi masa depan
bangsa sangat tidak elok jika demokrasi hanya diartikan sebagai MENGGUGURKAN
KEWAJIBAN sebagai negara demokrasi dengan melihat realita diatas.

Sudah seharusnya demokrasi dilimpahkan sepenuhnya kepada rakyat, pencapaian terbaik dalam demokrasi bukan hanya dalam bentuk pesta demokrasi berjalan aman damai dan tentram tetapi segenap rakyat ikut mengawal kebijakan pemerintah tsb. Lanjutkan berkarya adinda :)
ReplyDelete